Dampak negatif jika suka membentak anak

Dampak Negatif Jika Suka Membentak Anak

Senin, 27 April 2020 12:00 WIB | dibaca : 48 | dibagikan :

Tak sedikit orangtua yang akan merasa marah jika sang anak melakukan sebuah kesalah. Sehingga orang tua akan merasa jengkel dan akhirnya membentak sang anak secara langsung. Namun, sebagai orangtua sebaiknya untuk tidak membentak sang anak, disaat anak melakukan kesalahan. Karena dampak negatif jika suka membentak anak, akan  menghambat tumbuh kembang sang anak. Berikut adalah dampak negatif jika suka membentak anak, yang akan mempengaruhi tumbuh kembang pada anak.

Dampak Negatif Dari Membantak Anak

 1. Merusak Kepercayaan Diri Pada Anak

Setiap anak  memiliki respon yang berbeda-beda terhadap perlakuan dari orang di sekitarnya. Ada yang sensitif dan sekali dibentak langsung merasa kecewa. Ia menjadi kehilangan kepercayaan diri.  Para ahli juga mengungkapkan jika anak yang tumbuh dan berkembang di tengah keluarga keras akan mengalami penurunan rasa percaya diri. Anak ini akan merasa dirinya kurang berharga dan disayangi. Ini berbeda dengan anak yang diasuh dengan penuh cinta, kasih sayang dan kelembutan.

Jadi pastikan untuk tidak membentak anak ketika anak melakukan kesalaahan. Sebaliknya jika anak melakukan kesalahan, sebagai orangtua sebailknya berikan anak pengertian tanpa harus membentak.

 2. Menghambat Perkembangan Pola Pikir Anak

Ketika masih anak-anak, sel otak mereka dibiarkan untuk tumbuh dan berkembang. Namun, akan berbeda jika pada akhirnya anak berada di lingkungan atau pola asuh yang salah. Perilaku membentak anak ketika anak melakukan kesalahan sangat berdampak untuk dirinya. Akan ada banyak milyaran sel otak pada anak yang bisa rusak, dengan kata lain orangtua bisa menghambat perkembangan kognitif dan tidak berkembang sebagaimana mestinya. Kecerdasan anak juga bisa  terganggu tanpa orangtua sadari.

Dampak negatif jika suka membentak anak
Photo by www.freepik.com

 3. Rentan Memiliki Gangguan Kejiwaan

Ketika anak merasa orangtua atau lingkungan tidak lagi menerimanya, kondisinya sudah berbahaya. Anak-anak bisa merasakan hal itu ketika selalu mendapatkan tekanan atau kemarahan dari orangtua. Seringnya membentak anak ternyata lebih rentan membuat anak memiliki gangguan kejiawaan. Perlu  diketahui lagi, bahwa anak yang suka dibentak ternyata memudahkan anak mengalami depresi atau gangguan kecemasan yang menjadikannya sangat pendiam dan juga menurunnya konsentrasi. Jika sudah terlanjur seperti ini anak sudah pasti membutuhkan terapi psikologis secara berkala.

 4. Anak Semakin Agresif

Anak yang terbiasa dinasehati dengan cara dibentak, akan sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya sehingga menjadikan sang anak semakin agresif. Anak yang terbiasa mendapat didikan keras dari orangtuanya akan terbentuk menjadi anak yang keras pula. Anak bisa makin nakal, sulit dikendalikan, sulit dinasehti, suka menyerang, memukul, mendorong, menggigit dan sejenisnya.

Baca Juga:   Membangun Literasi Digital Keluarga yang Sehat

Tips Untuk Orangtua Agar Tidak Membentak Anak Saat Marah

 1. Cari Tahu Penyebabnya

Dalam hal membentak anak, tidak mungkin terjadi begitu saja pasti selalu ada pemicunya. Biasanya ini merupakan respon terhadap perilaku tertentu. Dengan kata lain, ada yang menjadi pemicunya. Bila orangtua bisa cari tahu apa yang menyebabkan emosi dan marah, maka orangtua bisa punya kesempatan lebih baik untuk menghindarinya.

Pemicu kemarahan bisa berbeda pada tiap orangtua. Merasa lelah, banyak pekerjaan di kantor, pulang ke rumah, dan harus menyiapkan makan malam, semua ini sangat mungkin membuat Anda hilang kesabaran.

 2. Bersikap Proaktif

Semisal jika anak hendak berangkat sekolah di pagi hari selalu membuat orangtua membentak anak, maka persiapkan di malam sebelumnya. Ini bisa berupa menyiapkan cemilan sebelumnya untuk membuat anak sibuk atau tidak saling bertengkar ketika orangtua repot dengan pekerjaan rumah.

 3. Tenangkan Diri

Saat melihat anak berulah yang menjengkelkan,orangtua mungkin jadi naik pitam dan akhirnya berteriak atau membentak. Orangtua bisa menghindari luapan emosi ini dengan berbagai cara untuk membuat diri serileks mungkin.

Hal pertama yang paling mudah dilakukan adalah dengan cara menarik napas sedalam mungkin. Embuskan dan ulangi beberapa kali sampai emosi Anda lebih stabil. Kedua, Anda bisa pergi menjauh dulu dari si kecil, misalnya ke kamar. Jika sudah merasa lebih tenang, Anda baru boleh mengajak anak berbicara dan memberikan arahan untuk tidak mengulangi perilakunya lagi secara tegas.

 4. Kendalikan Cara Bicara

Para periset menunjukkan, bahwa dengan semakin tenang berbicara, semakin mudah juga untuk menenangkan perasaan dan menahan emosi. Sebaliknya, jika menggunakan kata makian atau bentakan pada anak, semakin naik juga amarah dalam diri. Coba kendalikan cara bicara sebisa mungkin. Semakin sering dilatih, maka orantua bisa menguasai diri dan membuat anak mengerti bahwa perilakunya salah.


Sumber referensi :

Marbel Kata Ajaib
Marbel Kata Ajaib
Developer: Educa Studio
Price: To be announced

Tagged:

Penulis: Fauzia Eka

Hobby menulis dan membaca. Anggota tim relasi publik di Educa Grup. Penyuka drama korea dan berpengalaman dalam QA product.